Kamis, 09 September 2010

TEKNOLOGI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

TEKNOLOGI PAKAN TERNAK RUMINANSIA
Teknologi pakan ternak ruminansia adalah kegiatan pengolahan bahan pakan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan daya cerna, memperpanjang masa simpan. Bahkan mengubah hasil ikutan pertanian yang kurang berguna menjadi produk berdaya guna.
Pakan bagi ternak, berperan untuk pertumbuhan ternak muda, mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (daging, susu dan anak) serta tenaga bagi ternak dewasa. Pakan juga memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, maka jenis pakan yang diberikan harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup.
Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik dengan pemotongan rumput sebelum diberikan memberikan kemudahan bagi ternak untuk mengkonsumsinya. Sedangkan pengolahan bahan pakan secara kimiawi dengan menambahkan beberapa bahan kimiawi agar dinding sel tanaman yang semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup didalam rumen untuk mencernanya.
Banyak teknik pengolahan yang telah dilakukan. Untuk melengkapi pengetauan para penyuluh dalam memandu peternak mengolah pakan, maka disajikan informasi tentang teknologi pakan ternak ruminansia. Meliputi pengolahan pakan hijauan, pakan konsentrat, penyusunan formula pakan dan pakan jadi.

A. PAKAN HIJAUAN
Pakan hijauan yang terdapat pada padang rumput alam pada umumnya produksinya rendah serta tidak tahan terhadap kemarau panjang. Adanya pergeseran peruntukan lahan, yaitu lahan padang rumput dialihkan untuk keperluan lain mengakibatkan luas lahan padang rumput yang semakin berkurang sehingga produksi hijauan yang dihasilkan setiap tahun semakin berkurang.
Pakan hijauan leguminosa masih sangat terbatas produksinya, karena penanaman leguminosanya sendiri masih sedikit, baik yang ditanam sebagai pagar, pembatas lahan atau galangan (pematang) sawah. Kombinasi penanaman rumput dan leguminosa sangat dianjurkan karena selain berdampak meningkatkan produksi dan kualitas hijauan juga mengurangi penggunaan pupuk.
Karena pada saat musim hujan produksi hijauan melimpah, sebaliknya dimusim kemarau semakin berkurang, maka untuk menyimpan lebih lama perlu dilakukan teknik pengolahan. Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan dilapangan adalah:

1. PEMBUATAN HAY
Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauann pada musim kemarau. Ada dua metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:
Metode hamparan
Merupakan metode sederhana dilakukan dengan cara menghamparkan hijauan yang sudah dipotong dilapangan terbuka dibawah sinar matahari. Setiap hari hamparan dibolak balik hingga kering . Jay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air 20 – 30% (tanda warna kecoklat-coklatan)
Metode Pod.
Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat penyimpanan hijauan yang telah dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air kurang dari 5 %). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkab turunnya palatabilitas dan kualitas.

2. PEMBUATAN SILASE
Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan dimusim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan.
Prinsip utama pembuatan silase,
menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman
mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi kedap udara
menahan aktifitas enzim dan bakteri pembusuk

pembuatan silase pada temperatur 27 – 35oC, menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni mempunyai tekstur segar; berwarna kehijau-hijauan, tidak berbau disukai ternak, tidak berjamur, tidak menggumpal.
Beberapa metode dalam pembuatan silase.
a. metode pemotongan
Hijauan dipotong-potong terlebih dahulu dengan ukuran 3 – 5 cm.
Dimasukkan ke dalam lubang galian (silo) beralas plastik
Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
Tutup dengan plastik dan tanah.
metode pencampuran
Hijauan dicampur dengan bahan lain terlebih dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel- sel hijauan.
Bahan campuran dapat berupa asam-asam organik (asam fomiat; asam sulfat; asam klorida; asam propionat), molases/ tetes, garam, dedak padi, menir/ onggok dengan dosis per ton hijauan diperlukan sebagai berikut: asam organik 4 -6 kg, molases/ tetes 40 kg, garam 30 kg, dedak padi 40 kg, menir 35 kg, onggok 30 kg.
Pemberian bahan tambahanan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapsan atas agar terjadi pencampuran yang merata.


metode pelayuan
Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering sampai 40% - 50 %).
Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik.
Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
Tutup dengan plastik dan tanah.
3. AMONIASI
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan hasil sampingan pertanian (jerami dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), Sodium hidroksida (KOH) atau urea CO(NH2)2.
Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kima agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi adalah 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu air sebagai pelarut (1 liter air/ 1 kg jerami). Proses amoniasi dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering.

a. Pengolahan jerami padi dengan urea cara basah
jerami padi disusun dan dipadatkan dalam kotak pengepresan lalu diikat.
Jerami yang telah di packing dan diikat siap untuk diolah
Susun jerami diatas plastik serapi mungkin dan diperkirakan berat jerami 100 kg kering udara.
Timbang urea sebanyak 4 kg dan larutkan dalam 100 kg kering udara.
Siramkan larutan urea ke dalam tumpukan jerai selapis demi selapis hingga merata, semua tersiram dengan baik.
Tutup plastik serapi mungkin agar tidak terjadi kebocoran. Penutupan dengan plastik untuk mendapatkan kondisi yang diinginkan.
Sambungan plastik ditutup serapi mungkin agar udara dari luar tidak masuk dan udara gas amoniak dari dalam tdak keluar.
Sambungan dibawah ditutup dengan tanah dan sambungan plastik harus rapih dan tidak terjadi bocor agar kondisi yang diinginkan dapat tercapai.
Setelah ditutup dengan plastik kemudian ditutup dengan terpal agar kondisi plastik tidak rusak atau bocor dan tidak kena sinar matahari langsung.
Diamkan untuk proses selama kurang lebih 1 bulan.

Pemberian kepada ternak setelah diproses adalah dengan cara di diamkan terlebih dahulu setelah 24 jam untuk melepaskan bau amoniak yang tersisa. Setelah itu dapat disimpan dalam bentuk kering dan diberikan sewaktu-waktu.
Pengolahan jerami padi dengan urea cara kering.
Pilij jerami yang tidak terendam air sawah karena dapat rusak dan busuk.
Jerami yang sudah terpilih diikat dengan tali yang trbuat dari bambu setelah di packing supaya mudah dalam penanganan.
Cara penyimpanan ditempat yang tidak terkena air hujan.
Taburi urea secara merata lapis perlapis. Setiap 100 kg jerami padi diberi 3-4 kg urea (hasil penelitian Masaru Murai, Tohoku Nasional Agricultural Experiment centre, Non Publish).
Setelah ditaburi urea, bungkus dengan plastik. Kondisi fermentasi harus keadaan anaerob, sehingga penutupan harus sempurna jangan sampai ada bocoran. Jika terjadi kebocoran/ terbuka plastiknya maka kualitas hasil akan rusak.
Untuk menyempurnakan proses fermentasi. Penyimpanan diberi beban diatasnya agar ada tekanan ke bawah sehingga gas yang terbentuk dimanfaatkan oleh jerami.
Lama proses penyimpanan selama 30 hari/ 1 bulan.
Setelah 1 bulan, penyimpanan dapat dibuka. Hasil yang baik ditandai dengan amoniak yang menyengat, oleh karena itu hati-hati pada saat membukanya.
Setelah bau yang menyengat berkurang, pindahkan ke ruang penyimpanan. Simpan jerami olahan ditempat penyimpanan yang beratap agar tidak terkena air hujan. Perhatikan ventilasi gudang penyimpanan, udara harus bebas mengalir.
Setelah dibiarkan/ dianginkan selama 2-3 hari bau amoniak akan hilang. Jerami olahan siap diberikan kepada ternak. Jika penyimpanan baik maka jerami olahan ini dapat bertahan lama (sampai 6 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun).
Saat pemberian jerami olahan sebaiknya diberikan karbohidrat siap pakai misalnya tetes untuk mendapatkan hasil yang optimum. Sapi yang diberi jerami olahan harus selalu tersedia air dan jangan lupa diberi tambahan mineral.
4. FERMENTASI
Proses fermentasi merupakan proses anaerob sehingga perlu dihindarkan tindakan yang mengakibatkan masuknya udara. Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan probiotik sebagai stater. Peranan probiotik adalah untuk memecah selulosa menjadi nutrisi yang mudah diserap oleh tubuh ternak. Bahan yang digunakan sebagai stater antara lain starbio, bioplas atau koenzym. Fungsi fermentasi adalah perlakuan/ pengawetan oleh senyawa asam yang dihasilkan oleh mikroba dan dilakukan diluar tubuh ternak. Makin kuat tingkatan asamnya makin tinggi kenaikan kualitas jerami.
Beberapa keuntungan penggunaan jerami fermentasi sebagai pakan diantaranya adalah:
Meningkatkan produksi ternak karena kualitas nutrisi meningkat.
Mengurangi biaya pakan.
Penggunaan pakan dan tenaga kerja lebih efisien.
Lingkungan kandang lebih sehat dan nyaman. Karena kotoran lebih sedikit, kering, dan tidak berbau.
Pembuatan fermentasi jerami sebagai berikut:
Siapkan jerami, untuk 100 kg jerami, stater yang dperlukan sebanyak 0,5 kg dan 40 liter air.
Timbang jerami. Sediakan air. Timbang stater.
Tumpuk jerami lapis demi lapis dengan ketebalan 25 cm, dengan ukuran tumpukan 2,5 m x 2,5 m x 25 cm.
Setiap lapis siram dengan air hingga rata dan taburkan stater hingga rata.
Banyaknya lapisan tumpukan sesuai kebutuhan, setelah dianggap cukup, bagian atas ditutupi daun-daun kering atau daun pisang.
Biarkan selama 3-4 minggu, bongkar dan angin-anginkan sebentar.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengangkutan, sebaiknya hasil fermentasi dipadatkan dengan alat pres. Jerami yang telah difermentasi dan sudah diangin-anginkan dapat langsung diberikan kepada ternak. Jumlah pemberiannya sama dengan pemberian hijauan yaitu 10% dari berat badan. Untuk ternak yang belum terbiasa dengan jerami fermentasi perlu dilatih dengan mempuasakannya beberapa saat, baru diberikan jerami hasil fermentasi.
B. PAKAN KONSENTRAT
Pakan konsentrat merupakan pakan olahan yang dibuat dari berbagai bahan pakan ternak yang berfungsi sebagai pakan penguat. Syarat dari pembuatan pakan konsentrat, bahan-bahannya harus tersedia setiap saat dan harganya lebih ekonomis dan menguntungkan bagi peternak. Pakan konsentrat ini harus berfungsi sebagai:
1. Sumber energi, termasuk semua bahan pakan yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar dibawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
Kelompok serealia/ biji-bijian (jagung, gandum, sorgum).
Kelompok hasil ikutan serealia (hasil ikutan penggilingan), dll.
Kelompok umbi-umbian (ketela rambat, ketela pohon dan hasil ikutannya).
Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala, dan rumput setaria).

2. Sumber protein, termasuk semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan dan tanaman). Bahan pakan ini dikelompokkan menjadi 3 bagian:
Kelompok hijauan sebagai sisa hasil ikutan pertanian yang terdiri atas jenis daun-daun sebagai hasil ikutannya (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat. Ganggang dan bungkil).
Kelompok hijauan yang sengaja ditanam misalnya, lamtoro, turi, kaliandra, gamal, dan sebagainya.
Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang, dan sebagainya).
3. Sumber vitamin dan mineral, semua bahan pakan ternak yang berasal dari tanaman dan hewan, dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkatan umur, pemanenan, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (batang, biji dan daun). Disamping itu, beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.
Bahan pakan ternak secara umum dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu bahan baku yang berasal dari tumbuhan dan hasil ikutannya (nabati) serta yang berasal dari hewan dan hasil ikutannya (hewani). Bahan-bahan baku yang dipakai dalam pembuatan pakan ternak berfungsi sebagai sumber protein, energi, dan mineral dan vitamin.
C. PENYUSUNAN POLA PAKAN
1. Penyusunan formula
Faktor-faktor yang harus diketahui oleh peternak dalam menyusun formula pakan yang ekonomis dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia setempat adalah:
a. Ketersediaan bahan pakan.
Ketersediaan bahan pakan yang mudah diperoleh serta tersedia dalam jumlah yang cukup dan kontinu menjadi pertmbangan utama dalam pembuatan pakan. Bahan pakan lokal menjadi prioritas karena diharapkan dapat bersaing dengan bahan pakan lainnya yang berasal dari luar.
Harga satuan pakan.
Harga per unit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehinggan keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.
Standar kualitas pakan konsentrat.
Kualitas pakan konsentrat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan protein. Sebagai pedoman, setiap kg pakan konsentrat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi, protein 17% dan serat kasar 12%.
Prosedur memformulasikan.
Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, protein), harga per unit berat, harga per unit protein dan harga per unit energi.
Tentukan standar kualitas nutrisi pakan konsentrat yang akan dibuat.
Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi dari kandungan pakan konsentrat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).
Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi dari pada kandungan protein pakan konsentrat , tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi 50% pakan konsentrat.
Dalam penyusunan ransum ternak ruminansia perlu menggunakan tabel patokan kebutuhan nutrisi. Sebagai contoh penyusunan ransum sapi perah betina muda dengan berat badan 350 kg (1,5 bulan sebelum melahirkan, pada umur 36 bulan) dengan membutuhkan pakan setiap hari dengan kandungan nutrisi sebagai berikut:
Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi: bahan kering = 6,4 kg, ME = 13 Mcal, protein = 570 gr dan mineral = 37 gr.
Laktasi 1: bahan kering = 1,0 kg , ME = 2,02 Mcal, protein = 93,6 gr dan mineral = 5 gr.
Sehingga jumlah bahan kering yang dibutuhkan = 7,4 kg, ME = 15,02 kg, protein = 663,6 gr dan mineral = 42 gr.
Dari kebutuhan nutrisi tersebut diatas, pakannya dapat disusun dengan suatu metode. Misalnya dengan metode bahan-bahan pakan yang tersedia:
Rumput gajah: bahan kering = 16%, ME = 0,33 Mcal, protein = 1,8 gr=%= BK (bahan kering) dan mineral = 2,5gr=% BK.
Bungkil kedelai: bahan kering = 93,5%, ME = 3,44 Mcal, protein= 18,6 gr % Bk dan Mineral = 5,5 % Bk.
Bungkil kelapa: bahan kering = 86%, ME = 2,86 Mcal, Protein = 18,6 gr% BK dan mineral = 5,5 gr % BK.
Rumput gajah yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering sebanyak 80%= 80/100 x 7,4kg = 5,92kg BK, maka kandungan protein yang sudah dapat dipenuhi dari rumput gajah sebanyak = 1,8/ 100x 5,92kg = 106,56gr protein.

Kekurangan:
Bahan kering = 7,4-5,92kg= 1,48kg, protein = (663,6-106,56)gr= 557,04gr atau 557,04/ 1480 x 100%=37,64%.
Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sebanyak:19,04/26,3 x 1,48 kg=1,07kg BK, dan bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 7,26/26,3 x 1,48 kg= 0,41 kg BK.
Jadi, jumlah bahan pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ternak sapi perah tersebut adalah:
Rumput gajah = 5,92 x 100/16kg= 37kg, bungkil kedelai = 1,07 x 100/93,5kg = 1,14kg dan bungkil kelapa = 0,41 x 100/86 kg = 0,48 kg.

2. Pengolahan pakan
Pengolahan pakan dari bahan pakan menjadi pakan konsentrat dapat dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Penggilingan pakan (Grinding).
Bahan pakan yang belum halus seperti bentuk biji atau lempengan harus digiling terlebih dahulu sampai halus. Bahan pakan yang sudah halus langsung disiapkan untuk dicampur. Sedangkan bahan baku dengan bentuk yang belum halus harus dilakukan pengecilan ukuran partikel bahan baku pakan. Pengecilan partikel dilakukan dengan cara penggilingan sampai dengan bahan baku mencapai kehalusan tertentu sesuai dengan kebutuhan. Pengecilan ukuran partikel dilakukan dengan maksud agar memudahkan dalam proses pencampuran (mixing) sehingga diharapkan bahan baku dengan bentuk halus akan lebih mudah mencapai homogenitas dari produk akhir pakan. Perlu diperhatikan dalam proses pengecilan ukuran partikel alat yang digunakan harus lebih bersih untuk menghindari adanya kontaminasi dengan penurunan kandungan nutrisi bahan baku pakan.
b. Pencampuran Pakan (Mixing).
Pencampuran harus sesuai dengan pakan yang akan diproduksi. Apabila tidak menggunakan premix secara langsung, harus mencampur sendiri yang terdiri dari pelengkap pakan (feed suplement) dan pakan tambahan lainnya (feed additive).
Cek penimbangan untuk masing-masing bahan baku yang akan dibuat.
Amati proses pemcampuran sampai selesai.
Pada waktu tertentu, setelah pencampuran selesai, diambil sampel dan dilakukan analisa.
c. Pembuatan Pellet (Pelleting).
Setelah proses pencampuran selesai, pakan yang akan dibuat pellet.
Setelah proses pembuatan selesai, pakan tersebut harus dimasukkan keruang pendinginan sampai temperaturnya sama dengan suhu kamar.

D. PAKAN JADI (COMPLETE FEED)
Salah satu teknologi penyajian pakan adalah pakan lengkap yang merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan hasil ikutan pertanian dan pakan non konvensional yaitu dengan mencampurkan bahan-bahan tersebut dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak baik kebutuhan serat maupun zat pakan lainnya. Teknologi pakan ternak lengkap dikembangkan dari dasar “self feeding” yaitu ternak diberi kebebasan memilih pakan ternak sendiri yang sudah disediakan oleh peternak. Selanjutnya dikembangkan untuk memproses pakan menjadi bentuk yang sederhana dan dikemas untuk memudahkan pemberiannya dan dapat menekan biaya operasional khususnya tenaga kerja.
Bahan baku penyusunan ransum secara umum terdiri dari sumber hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan merupakan sumber serat dan sedikir vitamin, sedangkan pakan konsentrat merupakan protein, energi, dan mineral. Apabila sumber pakan serat dicampur dengan pakan konsentrat, maka menjadi pakan jadi atau disebut complete feed.
Pakan jadi (complete feed) perlu diperhatikan dan dikembangkan mengingat keunggulan-keunggulan yang dimiliki antara lain:
Menjamin suplai pakan ternak sepanjang waktu.
Mendukung program industrialisasi peternakan di daerah subur dan marginal.
Mempercepat produksi pupuk organik yang sangat diperlukan dalam reklamasi dan rehabilitasi lahan marginal.
Mobilitas pakan antar daerah lebih efektif dan efisien.
Meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Pakan jadi dapat dibuat dari bahan-bahan hasil ikutan pertanian sebagai sumber seratnya seperti ampas tahu, kulit kacang tanah, jerami, kedelai, tongkol jagung, pucuk tebu, dll. Ditambah hasil ikutan agroindustri sebagai sumber energi yaitu pollar (hasil ikutan gandum), dedak padi, tapioka, molases,onggok (hasil ikutan tapioka) dll. Bahan-bahan sumber protein seperti bungkil kopra, bungkil sawit, bungkil minyak biji kapok/ randu, kulit kopi, kulit coklat/ kakao dan urea. Dilengkapi dengan sumber mineral seperti garam dapur, zeolit, tepung tulang, mineral, dll.
Teknologi pengolahan hasil ikutan pertanian dan hasil ikutan agroindustri menjadi pakan jadi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai hasil ikutan dengan menggunakan metode prosessing yang terdiri dari:
Perlakuan pencacahan (chopping) untuk merubah ukuran partikel dan melunakkan tekstur bahan agar konsumsi ternak lebih efisien.
Perlakuan pengeringan (drying) dengan panas matahari atau alat pengering untuk menurunkan kadar air bahan.
Proses pencampuran (mixing) dengan menggunakan alat pencampur (mixer) dan perlakuan penggilingan dengan alat giling yang disebut Hammer Mill dan terakhir proses pengemasan.
Prosedur pembuatan pakan jadi yang menggunakan bahan baku hasil ikutan pertanian dan hasil ikutan agroindustri adalah sebagai berikut:
Bahan-bahan sumber serat dipotong-potong dengan alat pemotong (chopper) dengan ukuran 0,5-1cm, kemudian dikeringkan dengan menggunakan pemanasan matahari atau alat-alat pemanas sampai kadar air 10-12%.
Bahan-bahan sumber energi dicampur dalam alat pemcampur/ Mixer bersama dengan larutan molases sampai merata.
Seluruh bahan-bahan tersebut selanjutnya digiling dengan alat penggilingan (grinding) atau Hammer Mill dan ditambahkan urea, garam dapur, dan tepung tulang sampai tercampur merata.

Salah satu bentuk pakan jadi yang telah dikembangkan adalah pembuatan roti sapi (wafer). Pengolahan pakan yang berasal dari hijauan dan hasil ikutan pertanian menjadi roti sapi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan palatabilitas, mempermudah pengangkutan serta menjaga kontinuitas ketersediaan bahan pakan. Cara pembuatan roti sapi secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:
Rumput dan hasil ikutan pertanian dicacah dengan ukuran 3-5 cm, yaitu untuk mempercepat proses pengeringan serta mempermudah dalam pencampuran dengan bahan perekat.
Rumput dan hasil ikutan pertanian yang sudah dicacah dan leguminosa dikeringkan dibawah sinar matahari (lebih kurang 24jam).
Leguminosa yang sudah dikering kemudian digiling.
Rumput dan hasil ikutan pertanian yan sudah kering dicampur dengan bahan perekat sampai rata. Kemudian ditambahkan leguminosa yang telah digiling dan konsentrat, serta diaduk sampai rata.
Campuran yang sudah homogen dimasukkan kedalam cetakan (mall) yang telah dipanaskan untuk dipadatkan.
Kemudian dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan selama kurang lebih 24 jam pada suhu kamar.

Maiyunir Jamal menulis di majalah sinar tani, sumber; pedoman teknis pakan ruminansia. Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, 2006. telp/ Fax (021) 781 5782.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar